Ibu dan Ironi


Tepat seminggu gadis belia itu telah pergi. Saya tidak mengenal dia, juga orang tuanya. Namun, sangat sering
melintasi jalan di depan kontrakan petak mereka yang membujur di tepi parkiran sekolah swasta. Dia pergi dalam usia yang muda. Sangat muda malah, yakni 11 tahun.

Setelah berjuang melawan tumor yang bersarang di kaki selama hampir setahun, dia pun pergi ke keabadian. Di hari pemakamannya, seminggu silam, saya menyaksikan sebuah fragmen kehidupan terpilu. Kehilangan orang yang dikasihi, untuk selama-lamanya.

Siang itu, saya terlebih dahulu pergi ke pemakaman, mendahului rombongan pengantar jenazah. Hujan lebat dibumbui angin yang cukup kencang dan turun selama hampir sejam, sedikit menunda langkah rombongan.   

Lalu, dari ujung gang pemakaman, suara sirene meraung-raung. Rombongan telah tiba. Di mulut pemakaman, ambulans berhenti dan peti, tempat gadis itu tertidur selamanya, diusung ke arah liang lahatnya.

Tangis sang ibu, mengguyur tanah yang terlebih dahulu dibasahi hujan. Tangis yang sama, terus mengiringi proses pemakaman hingga selesai. Selesai sudah. Berakhir sudah. Sampai ketemu di keabadian.

Dalam perjalanan pulang, dengan menumpang angkot carteran keluarga yang berduka, saya merenungi tangisan ibu dari gadis belia itu. Air mata, adalah cinderamata dari cinta. Kasih terhadap buah hati yang sudah dikandung selama sembilan bulan. serta sudah dilahirkan dengan susah payah, berjuang antara hidup dan mati. Tangis adalah kasih, dan kasih ibu sepanjang masa.

Sementara itu, di sisi dunia yang lain, ada ibu yang dengan sengaja meninggalkan anak-anaknya, dengan berbagai alasan. Saya kemudian teringat akan seorang ibu beranak lima di kampung halaman. Dia bersuamikan seorang pegawai negeri sipil (PNS) rendahan. Dia punya tekad untuk meraih sesuatu yang lebih lagi.

Berbekal tekad itulah, dia meninggalkan lima orang anaknya dan pergi merantau ke Malaysia, sekitar 21 tahun silam. Entah saat itu dia berangkat secara legal, atau sebaliknya. Setiba di sana, mungkin setahun kemudian komunikasi dengan keluarganya terhenti. Dia lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada yang tahu di mana keberadaannya. Namun, desas-desus menyebut dia kepincut lelaki lain, bahkan sudah dibawa lelaki itu kembali ke Indonesia, ke sebuah kota di Pulau Jawa.

Dia pergi begitu saja, hingga akhirnya suaminya meninggal dunia. Hingga akhirnya anak-anaknya mulai beranak pinak, memberikan cucu baginya. Tak ada yang tahun di mana dia berada.

Mungkin dalam hati, dia merindukan anak-anaknya, namun apalah daya, situasi membuatnya sulit untuk menghubungi mereka. Mungkin juga, dia sudah melupakan masa lalunya, dan hidup bahagia di tempat yang baru.

Inilah ironi dunia. Di satu sisi, ada yang begitu besar cintanya terhadap sang anak, rela melakukan apa saja demi kesehatan dan kebahagiaan buah hatinya. Sementara itu, di sisi yang lain, ada yang tega menyia-nyiakan darah daginya sendiri.

Sebuah ironi kehidupan, yang sepertinya sudah mengiringi sejarah manusia di muka bumi, dan akan terus mengiringi hingga akhir masa. Entah kapan.

Kemudian, sayup-sayup terdengar dari sudut memori, lengkingan suara Eddy Silitonga… 

mama...kembalilah padaku

hanyalah dirimu

harapanku,

 oh mama
mama...

kembalilah padaku

hanyalah dirimu

pelita hidupku

Comments