Ibu dan Ironi
Tepat seminggu gadis belia itu telah pergi. Saya tidak mengenal dia, juga orang tuanya. Namun, sangat sering melintasi jalan di depan kontrakan petak mereka yang membujur di tepi parkiran sekolah swasta. Dia pergi dalam usia yang muda. Sangat muda malah, yakni 11 tahun. Setelah berjuang melawan tumor yang bersarang di kaki selama hampir setahun, dia pun pergi ke keabadian. Di hari pemakamannya, seminggu silam, saya menyaksikan sebuah fragmen kehidupan terpilu. Kehilangan orang yang dikasihi, untuk selama-lamanya. Siang itu, saya terlebih dahulu pergi ke pemakaman, mendahului rombongan pengantar jenazah. Hujan lebat dibumbui angin yang cukup kencang dan turun selama hampir sejam, sedikit menunda langkah rombongan. Lalu, dari ujung gang pemakaman, suara sirene meraung-raung. Rombongan telah tiba. Di mulut pemakaman, ambulans berhenti dan peti, tempat gadis itu tertidur selamanya, diusung ke arah liang lahatnya. Tangis sang ibu, mengguyur tanah yang terlebih dahulu di...