Posts

Mete

Image
“Ade bikin kaka mete , tidur malam bola-bale” Demikianlah sepenggal lirik lagu yang tengah happening saat ini, Tabola-Bale. Lagu itu hits dari ujung ke ujung negeri ini, bahkan sampai ke negeri tetangga Malaysia. Tapi coba perhatikan penggalan lirik di atas. Apa makna kata mete ? Kata itu mungkin asing bagi orang di luar Nusa Tenggara Timur (NTT). Artinya kurang lebih adalah begadang. Tidak tidur semalaman, atau tidur larut dini hari. Lek-lekan istilah Bahasa Jawanya. Biasanya di NTT, mete merupakan kebiasaan Ketika ada kedukaan. Entah apa maksudnya, tapi semua orang di sana memahami harus ada yang begadang, sebagai bentuk menemani keluarga berduka, sekaligus menemani jenazah sebelum dikebumikan. Mete kurang sedap tanpa hidangan kopi tubruk, biar melek, serta permainan judi. Bisa kartu, bisa dadu atawa kuru-kuru, atau bentuk lainnya. Tanpa itu, tenda kedukaan sepi adanya. Soal yang satu itu jadi perkara tersendiri juga di di NTT. Polisi terkadang menyambangi tenda kedukaan da...

Nasi Kuning Mama

Image
Hari ini, 3 Oktober, semestinya beliau berusia 70 tahun. Tapi, angka kepala tujuh tidak pernah ia raih. Usianya terhenti di 53 tahun 3 bulan. Hari ini, saya mengenang Mama. Dulu sewaktu masih tinggal di kampung halaman, setiap 3 Oktober, pagi-pagi benar kami semua sudah bangun, segera mandi dan pergi ke gereja untuk mengikuti Misa harian. Tujuannya bukan hanya mengucap syukur atas hari ulang tahun Mama, tapi juga atas hari ulang tahun pernikahan Mama dan Bapa. Ya, mereka mengikat janji suci tepat pada ulang tahun Mama yang ke-25, 3 Oktober 1980. Karena itulah, tanggal dan bulan ini, bagi anak-anak, merupakan tanggal keramat, dan wajib diselebrasikan, meskipun itu dalam hati saja. Biasanya pada tanggal itu, sepulang sekolah, sudah terhidang hidangan yang spesial di meja makan. Nasi kuning itu wajib, beserta lauk pauk seperti ayam goreng. Kala itu lauk ayam adalah spesial, karena sehari-hari kami lebih sering mengonsumsi ikan laut. Menu-menu yang sama spesialnya juga jaid jamuan ...

Jangan Salah Menilai

Image
Do not judge a book by it’s cover . Jangan menilai seseorang dari tampilan luar semata. Apa tampilan luar itu? Bisa nama, perawakan, atau penampilan. Soal menilai cover, ada segudang kisah yang saya punya. Salah satu cover itu adalah nama: Rizal. Yang dalam Bahasa Arab artinya Laki-laki. Entah mengapa, di Indonesia jenis nama ini sering diasosiasikan sebagai orang Minang. Karena itulah, ketika mendengar nama saya untuk pertama kali, tidak sedikit yang mengira saya orang dari belahan Sumatera Barat. “Dari Padang ya?,” tanya mereka itu. “Iya dari dari padang rumput,” timpal saya sambil tertawa. Selain dikira orang Padang, menyandang nama Rizal juga kerap diasosiasikan sebagai orang Islam. Padahal salah kaprah, wong saya ini penikmat daging B2 kok. Tidak tanggung-tanggung, guru saya di sebuah sekolah Katolik di Flores sana pun sempat mengira saya penganut Islam, sesaat ketika mendengar nama saya. Padahal nama ini bukan karena ada koneksi dengan Minang, atau pun dengan dunia Ara...

Pemimpin Revolusioner

Image
Tiba-tiba saya teringat pada sebuah kebijakan yang revolusioner dari pelosok Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama pembuat kebijakan, serta alamat lengkapnya saya tidak ingat betul. Mungkin perlu membuka catatan lama mengenai reportase ketika itu. Maklum, perjumpaan kami terjadi 14 tahun silam.   Namun yang pasti, dia berasal dari sebuah dusun dan desa yang terletak di Kecamatan Sentolo, Kulon Progo. Lalu, apa kebijakan revolusioner yang digelorakan sang kepala dusun tersebut? Dia menerbitkan aturan dilarang merokok di wilayah pedukuhan yang dia pimpin. Ini aturan yang revolusioner bukan? Tidak ada satu bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden di Indonesia yang sanggup melakukan pelarangan ini. Pelarangan itu tidak serta merta muncul tanpa alasan. Semua itu terjadi karena sang kepala dusun jengah lantaran tikar inventaris dusun yang masih baru dan digunakan saat hajatan di dusun itu, rusak berlubang, bolong-bolong karena kejatuhan punting rokok. Ditambah dengan b...

Transportasi Umum dan Retret

Image
Beberapa waktu belakangan ini, saya lebih sering menggunakan transportasi umum dari atau menuju tempat kerja. Menggunakan transportasi umum secara utuh dari rumah ke tempat kerja, dan sebaliknya, memberikan warna baru dalam kehidupan. Saya jadi bisa mendengarkan keluh kesah para sopir angkutan kota (angkot) di daerah perbatasan Bekasi-Jakarta yang terkenal butut, bahwa penumpng semakin berkurang. Dulu angkot-angkot semacam itu senantiasa memanen uang, karena penumpang yang membludak. Dalam sehari, mereka bisa meraup uang yang banyak, setelah dipotong bensin dan setoran kepada pemilik angkot. “Sejak ada Jaklingko [yang beroperasi di kawasan Jakarta], penumpang jadi menurun secara drastis,” keluh salah seorang sopir Angkot KR yang saya tumpangi, suatu masa. Rute angkotnya memang beririsan dengan rute Jaklingko yang diprakarsai oleh Pemprov Jakarta. Dia mengaku bahwa bapaknya sudah menjual angkot mereka, karena bisnis transportasi seperti itu sudah tidak menguntungkan lagi. Dia ju...

Ibu dan Ironi

Image
Tepat seminggu gadis belia itu telah pergi. Saya tidak mengenal dia, juga orang tuanya. Namun, sangat sering melintasi jalan di depan kontrakan petak mereka yang membujur di tepi parkiran sekolah swasta. Dia pergi dalam usia yang muda. Sangat muda malah, yakni 11 tahun. Setelah berjuang melawan tumor yang bersarang di kaki selama hampir setahun, dia pun pergi ke keabadian. Di hari pemakamannya, seminggu silam, saya menyaksikan sebuah fragmen kehidupan terpilu. Kehilangan orang yang dikasihi, untuk selama-lamanya. Siang itu, saya terlebih dahulu pergi ke pemakaman, mendahului rombongan pengantar jenazah. Hujan lebat dibumbui angin yang cukup kencang dan turun selama hampir sejam, sedikit menunda langkah rombongan.     Lalu, dari ujung gang pemakaman, suara sirene meraung-raung. Rombongan telah tiba. Di mulut pemakaman, ambulans berhenti dan peti, tempat gadis itu tertidur selamanya, diusung ke arah liang lahatnya. Tangis sang ibu, mengguyur tanah yang terlebih dahulu di...

Vivere Pericoloso

Image
Lingkungan tempat tinggal saya masih agak asri. Ada beberapa batang pohon tumbuh di halaman, baik depan maupun belakang. Jambu air, rambutan, mangga dan klengkeng. Lahan kosong di samping rumah pun dipenuhi rimbunan pohon pisang. Selain itu, tanah kosong di samping rumah pun dipenuhi rerumputan dan semak. Rapatnya vegetasi itu mengundang kehadiran nyamuk. Mau tidak mau, nyamuk pun kerap mampir ke rumah saya. Biar tidak disiksa, mau tidak mau obat nyamuk mesti senantiasa tersedia. Berbicara soal obat nyamuk, saya masih memilih cara konvensional yakni menggunakan obat nyamuk bakar. Untuk yang satu ini, pilihan mereknya jatuh pada Kingkong, yang seturut pengalaman, lebih ampuh mengusir nyamuk dibandingkan merk Baygon. Belum lama ini, saya membeli sebungkus obat nyamuk ke warung Pakdhe yang terletak kira-kira 25 meter dari rumah. Rupanya harga obat nyamuk sudah naik menjajdi Rp7000. Kata istri saya, sebelumnya Rp6500. Terakhir kali saya membeli, harganya masih Rp6000. “Sekarang apa...