Vivere Pericoloso
Lingkungan tempat tinggal saya masih agak asri. Ada beberapa batang pohon tumbuh di halaman, baik depan maupun belakang. Jambu air, rambutan, mangga dan klengkeng. Lahan kosong di samping rumah pun dipenuhi rimbunan pohon pisang.
Selain itu, tanah kosong di samping rumah pun dipenuhi rerumputan dan semak. Rapatnya vegetasi itu mengundang kehadiran nyamuk. Mau tidak mau, nyamuk pun kerap mampir ke rumah saya. Biar tidak disiksa, mau tidak mau obat nyamuk mesti senantiasa tersedia.
Berbicara soal obat nyamuk, saya masih memilih cara konvensional yakni menggunakan obat nyamuk bakar. Untuk yang satu ini, pilihan mereknya jatuh pada Kingkong, yang seturut pengalaman, lebih ampuh mengusir nyamuk dibandingkan merk Baygon.
Belum lama ini, saya membeli sebungkus obat nyamuk ke warung Pakdhe yang terletak kira-kira 25 meter dari rumah. Rupanya harga obat nyamuk sudah naik menjajdi Rp7000. Kata istri saya, sebelumnya Rp6500. Terakhir kali saya membeli, harganya masih Rp6000.
“Sekarang apa-apa pada naik harganya,” kata Pakdhe pemilik warung.
Memang betul adanya. Jika kita yang terbiasa membeli kebutuhan sehari-hari, tentu merasakan kebaikan berbagai barang kebutuhan. Belanja stok sayuran dan bahan pokok lainnya, bisa menghabiskan puluhan hingga seratusan ribu rupiah.
Situasi saat ini memang sedang genting-gentingnya, bagi sebagian besar orang Indonesia. Situasi perekonomian sedang tidak baik-baik saja. Tidak sedikit industri padat karya gulung tikar dan sebagai konsekuensinya, tentu saja para pekerja terkena pemutusan hubungan kerja.
Perang dagang antara China dan Amerika Serikat, serta tarif resiprokal, salah satu komponen tarif dalam perdagangan antarnegara, bakal kian menghantam perekonomian kita. Barang dari China bisa makin membanjiri pasar Indonesia. Tadinya barang-barang itu bakal lari ke Amerika, namun bisa beralih ke negara lain, termasuk Indonesia karena mencari tarif yang lebih rendah.
Di samping itu, produk andalan Indonesia akan berkurang daya serapnya di pasar internasional, khususnya Amerika karena pengenaan tarif yang tinggi. Bisa dibayangkan bauran dari dua hal itu akan bermuara pada titik yang sama yakni tidak lakunya produk Indonesia karena kalah bersaing dari sisi harga. Efek selanjutnya, perusahaan akan tutup atau setidaknya mengurangi tenaga kerja. Pengangguran kian melonjak.
Melihat situasi ini, memancing kecemasan. Akankah esok hari, mentari secarah hari kemarin? Akankah pekerjaan yang tengah kita geluti, akan aman hingga masa pensiun nanti? Tiada jawaban yang pasti. Kita memasuki era Vivere Pericoloso, alias zaman yang menyerempet bahaya.
Karena itu, mari gantungkan harapan setinggi langit. Kalau dulu unutk untuk cita-citamu, saat ini bagi kondisi perekonomian yang lebih baik.

Comments
Post a Comment