Jangan Salah Menilai


Do not judge a book by it’s cover
. Jangan menilai seseorang dari tampilan luar semata. Apa tampilan luar itu? Bisa nama, perawakan, atau penampilan.

Soal menilai cover, ada segudang kisah yang saya punya. Salah satu cover itu adalah nama: Rizal. Yang dalam Bahasa Arab artinya Laki-laki. Entah mengapa, di Indonesia jenis nama ini sering diasosiasikan sebagai orang Minang. Karena itulah, ketika mendengar nama saya untuk pertama kali, tidak sedikit yang mengira saya orang dari belahan Sumatera Barat.

“Dari Padang ya?,” tanya mereka itu.

“Iya dari dari padang rumput,” timpal saya sambil tertawa.

Selain dikira orang Padang, menyandang nama Rizal juga kerap diasosiasikan sebagai orang Islam. Padahal salah kaprah, wong saya ini penikmat daging B2 kok. Tidak tanggung-tanggung, guru saya di sebuah sekolah Katolik di Flores sana pun sempat mengira saya penganut Islam, sesaat ketika mendengar nama saya.

Padahal nama ini bukan karena ada koneksi dengan Minang, atau pun dengan dunia Arab beserta agama mayoritas di sana. Nama ini semata-mata terinspirasi dari Jose Rizal, pahlawan kemerdekaan Filipina yang berjuang membebaskan negeri itu dari jajahan Spanyol. Dia dieksekusi oleh sebuah regu tembak di tempat yang sekarang disebut Taman Rizal.

Tapi ada kemiripan sih antara Rizal di sini dan Rizal yang di sana. Kami sama-sama mencintai sastra. Semasa hidup, Jose Rizal menghasilkan banyak puisi bagus, dan juga novel.

Kembali ke cover yang selanjutnya adalah penampilan, bisa bentuk wajah, bisa aksesoris yang dikenakan. Lagi-lagi saya jadi objek salah kaprah. Sudah bernama Rizal, saya suka membiarkan jambang tumbuh panjang. Lengkap sudah sangkaan sebagai orang Islam itu. Padahal alasannya sederhana. Punya jenggot yang panjang, sepertinya terlihat keren, seperti Serj Tankian, vokalis band metal progresif System of A Down.

Soal penampilan ini, saya teringat dulu sewaktu masih di Yogyakarta, pada suatu Minggu pagi, ada ujian kenaikan tingkat perguruan karate yang saya ikuti. Dari daerah Janti, saya menumpang bus jalur 7 dan turun di Jalan Veteran, sisi sebelah barat Kebun Binantang Gembira Loka.

Dari situ, saya berjalan kaki, membelah perkampungan yang saya lupa namanya, menuju ke Jalan Glagahsari, tempat pelaksanaan ujian. Tempat ujian itu adalah bekas bengkel milik kini sudah almarhum, Sensei Abdulrahman dan istrinya Sensei Lili.

Dengan tergopoh-gopoh takut terlambat ke lokasi ujian, saya berpapasan dengan seorang pria muda yang mengendarai sepeda. Dia bercelana cingkrang dan jika dilihat dari dekat, jidatnya agak kehitaman, tanda dia rajin bersembahyang.

Dari kejauhan dia sudah mengumbar senyum. Begitu dekat, dia langsung mengucapkan salam: “Assalamwulaiakum”. Spontan saya membalas: “Wualaikumsalam” sambil tersenyum juga.

Setelah dia berlalu barulah saya ngeh. Buajindut, gara-gara saya berjanggut dan bercelana karate yang memang biasanya cinkrang alias ujung celana di atas mata kaki, pria muda tadi mengira saya bagian dari alirannya. Kocak.

Yang lebih parah lagi, terjadi sekitar 11 tahun silam, pada 2014. Saat itu di gerai Seven Eleven (Sevel) di daerah Banjir Kanal Timur (BKT), Pondok Bambu, saya sedang berselancar di dunia maya menggunakan laptop, ditemani sebotol susu kedelai.

Tiba-tiba seorang pria berdiri di hadapan saya, berwajah Arab tulen, lalu dia berseru: “Muhammad &%^$$%##%&^$^#%#%@%@$”.

 Dia terus berbicara dengan Bahasa Arab!. Saya cuma bisa melongo. Menyadari hal itu, dia kemudian menggunakan Bahasa Inggris: “Are you Muhammad?”. Langsung saya jawab: “No. I am not Muhammad”.

Dia langsung meminta maaf dan pergi entah ke mana. Beberapa menit kemudian pria itu muncul lagi dan bersalaman dengan seorang Arab tulen lainnya. Mereka bercipika-cipiki. Ah itu dia Muhammad yang dimaksud. Bahlul ente.

Kata orang sih wajah saya ada Arab-arabnya. Mungkin iya mengingat ukuran hidung saya yang bangir, ditopang alis mata yang tebal, tapi kini mulai berguguran karena faktor U. Ya ini tidak bisa dihindari, wong dari sononya sudah begini, karena faktor genetis yang diturunkan.

Bisa jadi kalau dicek DNA mungkin akan ketahuan percampuran sekian persen gen dari Arab, atau daerah lain di luar Indonesia. Pasalnya Larantuka, tempat asal saya, adalah daerah pesisir yang teduh dan disinggahi oleh kapal yang hilir mudik ke barat maupun ke timur di sisi Selatan Indonesia. Sangat mungkin di masa lalu terjadi persilangan gen dan tentu saja budaya yang melahirkan bibir-bibit seperti saya ini.

Jadi, singkat kalimat, jangan menilai segala sesuatu dari penampilan luar. Ada kalanya orang terlihat ceria, padahal hatinya hancur, karena ditinggal kekasih mungkin. Ada juga yang terlihat glamour, dan memang duitnya banyak, tapi hatinya kosong. Lho.

    

Comments

Popular posts from this blog

Pemimpin Revolusioner

Mete