Mete


“Ade bikin kaka mete, tidur malam bola-bale”

Demikianlah sepenggal lirik lagu yang tengah happening saat ini, Tabola-Bale. Lagu itu hits dari ujung ke ujung negeri ini, bahkan sampai ke negeri tetangga Malaysia. Tapi coba perhatikan penggalan lirik di atas. Apa makna kata mete?

Kata itu mungkin asing bagi orang di luar Nusa Tenggara Timur (NTT). Artinya kurang lebih adalah begadang. Tidak tidur semalaman, atau tidur larut dini hari. Lek-lekan istilah Bahasa Jawanya.

Biasanya di NTT, mete merupakan kebiasaan Ketika ada kedukaan. Entah apa maksudnya, tapi semua orang di sana memahami harus ada yang begadang, sebagai bentuk menemani keluarga berduka, sekaligus menemani jenazah sebelum dikebumikan. Mete kurang sedap tanpa hidangan kopi tubruk, biar melek, serta permainan judi. Bisa kartu, bisa dadu atawa kuru-kuru, atau bentuk lainnya. Tanpa itu, tenda kedukaan sepi adanya.

Soal yang satu itu jadi perkara tersendiri juga di di NTT. Polisi terkadang menyambangi tenda kedukaan dan melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Bermaksud turut berduka cita malah jadinya berduka karena masuk bui.

Untuk menghindari penggrebekan, terpaksa uang taruhan tidak ditaruh di atas meja. Sebagai ganti, para peserta membayar menggunakan potongan lidi, yang disepakati besaran nilainya. Nanti akan dibayarkan di akhir permainan dan dilakukan di bawah meja tentunya.

Berbicara soal mete, saya pun dulu pelakunya. Bukan karena bermain judi di tenda kedukaan, tapi karena menanti pertandingan sepakbola. Iya, perbedaan waktu antara Indonesia dan negara-negara di Eropa, menyebabkan pertandingan sepakbola di belahan dunia sana, harus kita nikmati pada tengah malam atau dini hari. Ya sudah, mete deh.

Kalau sudah berbicara tentang klub kebanggaan, AC Milan, jam berapapun tetap saya saksikan, baik itu pertandingan liga domestiknya maupun Liga Champions di mana klub strip merah hitam itu sudah tujuh kali merengkuh gelar juara.

Tapi kini, entah kenapa, kebiasaan mete itu sulit saya lakoni. Mata tak kuasa untuk melek. Alhasil, tertidur pulaslah saya dan keesokan harinya barulah mencari informasi di internet, berapa skor pertandingan dari tim kesayangan.

Karena tak kuasa begadang, saya melewatkan pertandingan kualifikasi Piala Duna, Arab Saudi vs Indonesia. Ya, selain karena disiarkan tengah malam, tentunya juga saya tidak terlalu antusias mengingat tipisnya peluang Indonesia untuk lolos. Tapi dalam hati masih berharap lolos sih sebenarnya.

Rasa-rasanya, saya juga akan melewatkan pertandingan berikutnya melawan Irak. Semoga saja menang ya.

Sebagai ganti, saya malah menantikan pertandingan Piala Dunia U20 yang digelar di Chile. Umumnya pertandingan sepakbola di Amerika Latin, dapat disaksikan oleh pemirsa di Indonesia pada pagi hari, dan saya menantikan Argentina, tim yang sudah enam kali juara di ajang tersebut, untuk Kembali merengkuh gelar kampiun.

Terakhir kali tim itu juara pada 2007 silam, di era Kun Aguero, Angel Di Maria, dan Kawan-kawan. Tahun itu sebenarnya Lionel Messi juga masih bisa memperkuat tim tersebut, namun dia sudah kadung mendunia jadi tidak membutuhkan ajang itu untuk menunjukkan bakatnya. Dua tahun sebelumnya dia sudah menjadi pemain terbaik di ajang tersebut.

Kembali soal begadang. Rasa-rasanya memang zaman telah menuntut saya untuk tidak begadang. Dulu begadang karena usia masih lebih muda, Kesehatan masih prima dan tentu saja tidak kebiasaan itu tidak mengganggu tensi darah. Kalau sekarang? Jangan ditanya.

Di ujung permenungan soal mete inilah, saya jadi ingat lagu Bang Haji Rhoma Irama. “Begadang boleh saja, asalkan ada gunanya”.

Comments

Popular posts from this blog

Pemimpin Revolusioner

Jangan Salah Menilai