Memberi Makan Kucing Liar Itu Salah
“Kita harus mencari cara untuk menghibur dan menentramkan hati”. Kurang lebih begitu intisari dari pesan yang disampaikan oleh kenalan saya. Dia menyarankan saya yang keseharainnya berjibaku dengan tulisan, untuk melanjutkan kebiasaan menulis catatan harian semacam ini.
Karena itulah, maka saya menulis catatan kali ini.Sebenarnya kebiasaan menulis catatan harian pernah menjajdi bagian dari kehidupan saya beberapa tahun silam, dan media tempat yang memposting sebagian besar tulisan saya adalah blog pribadi. Akan tetapi, entah mengapa, saat ini saya tidak bisa mengakses blog tersebut. Sependek ingatan, saya tidak pernah mengganti kata kunci dari blog tersebut.
Ya sudahlah. Mungkin memang sudah saatnya saya membuat blog baru, dan inilah blog baru itu. Sebuah blog yang menggantikan blog lama, yang saya mulai sekitar 12 tahun silam.
Saat tengah menulis catatan ini, persis di dinding belakang yang berbatasan dengan sebuah sekolah vokasi negeri, dua ekor kucing asyik masyuk mengeluarkan suara-suara aneh yang sangat mengganggu. Tanpa menunggu waktu lama, segera saya hardik kedua kucing itu pergi. Maklum saja, musim kawin bagi kucing telah tiba, dan sebentar lagi, kucing betina bunting dan liar akan berseliweran di depan mata.
Berbicara soal kucing, saya melihat suatu fenomena menarik di Jakarta, dan mungkin di kota besar lainnya. Ada beberapa orang pencinta binatang, baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok, secara rutin memberi makan kucing-kucing liar. Mereka juga membawa botol bekas air mineral yang dipotong, sebagai wadah minum bagi kucing-kucing yang mungkin ‘malang’ di benak para manusia dermawan itu.
Perilaku itu baik sebagai wujud rasa cinta mereka terhadap binatang, bagi mereka. Tapi saya punya pandangan yang berbeda dan tentu, sebagai insan yang mengaku berdemokrasi, mestinya disikapi secara dewasa dan bijaksana. Ya, tahu sendiri, terkadang para pencinta binatang itu agak barbar terhadap orang yang berseberangan dengan mereka. Lihat saja segala cacian dari mereka di media instagram, jika ada komentar ada postingan yang tidak sejalan dengan para pencinta binatang.
Baik kembali lagi ke persoalan memberi makan kucing liar. Menurut saya, membeeri makan kucing liar itu salah karena dengan begitu, kita akan mematikan insting kucing. Jika memberi makan secara teratur, kucing akan kenyang dan tentu saja kehilangan insting untuk memburu mangsa seperti tikus. Jika sudah demikian, maka tentu saja pertumbuhan tikus akan semakin merajalela. Jadi, kesimpulannya, memberi makan kucing liar, mengganggu inting serta kemandirian mereka dan juga mengganggu keseimbangan alam.
Tapi, kembali lagi, itu adalah hak setiap individu. Mereka bebas melakukan apa yang diyakini benar dan saya menghargai serta memberi ruang bagi mereka untuk tetap melakukan tindakan ‘mulia’ itu. Tapi, kalau jadi mereka, ya saya akan menghentikan semua itu dan mengalokasikan anggaran untuk membeli makanan kucing, untuk hal yang menurut saya lebih masuk di akal seperti menyalurkan zakat atau sejenisnya.
Kenapa demikian? Karena bagi saya, masih banyak juga manusia yang membutuhkan dukungan untuk bisa mencapai kehidupan yang transformatif, berubah secara mendasar dan terberdayakan.

Comments
Post a Comment