Transportasi Umum dan Retret


Beberapa waktu belakangan ini, saya lebih sering menggunakan transportasi umum dari atau menuju tempat kerja.

Menggunakan transportasi umum secara utuh dari rumah ke tempat kerja, dan sebaliknya, memberikan warna baru dalam kehidupan. Saya jadi bisa mendengarkan keluh kesah para sopir angkutan kota (angkot) di daerah perbatasan Bekasi-Jakarta yang terkenal butut, bahwa penumpng semakin berkurang.

Dulu angkot-angkot semacam itu senantiasa memanen uang, karena penumpang yang membludak. Dalam sehari, mereka bisa meraup uang yang banyak, setelah dipotong bensin dan setoran kepada pemilik angkot.

“Sejak ada Jaklingko [yang beroperasi di kawasan Jakarta], penumpang jadi menurun secara drastis,” keluh salah seorang sopir Angkot KR yang saya tumpangi, suatu masa.

Rute angkotnya memang beririsan dengan rute Jaklingko yang diprakarsai oleh Pemprov Jakarta. Dia mengaku bahwa bapaknya sudah menjual angkot mereka, karena bisnis transportasi seperti itu sudah tidak menguntungkan lagi. Dia juga mengaku kalau tidak karena menganggur, mungkin dia tidak akan mengemudika angkot untuk mencari penumpang.

Ya, zaman memang senantiasa berubah. Selain karena faktor Jaklingko, penurunan jumlah penumpang terjadi karena pertumbuhan jumlah sepeda motor yang makin mudah dibeli, baik secara tunai maupun kredit. Kalau tidak berubah dengan melakukan pembenahan, dengan memberikan kenyamanan serta kepastian waktu, maka kita akan siap-siap ditelan zaman.

Di angkot, saya juga bisa melihat wajah-wajah lelah yang ingin segera tiba di rumah, namun dompetnya cekak, sehingga harus sabar menanti angkot ngetem. Di angkot pula saya makin akrab dengan pengamen yang seringnya bersuara sumbang ketimbang merdu.

Fragmen-fragmen semacam ini, tidak akan pernah bisa saya temui, jika saya tidak benar-benar total menggunakan transportasi umum. Saat menggunakan kendaraan pribadi, yang saya fokuskan adalah bagaimana saya bisa sampai ke lokasi dengan selamat, kalau bisa cepat. Tidak banyak hal yang bisa perhatikkan selain itu.

Menggunakan transportasi umum juga membuat saya lebih reflektif. Merenungi tahapan dalam kehidupan yang sudah saya lalui, kemudian direflektsikan dengan pertanyaan penuntun. “Apakah saya sudah benar? Adakah yang perlu saya benahi?”.

Renungan-renungan seperti itu muncul tatkala angkot sedang mengetem, atau saat berjalan kaki menuju ke arah rumah yang berjarak ratusan meter dari titik di mana angkot menepi setelah mendapatkan sinyal setop dari saya.

Momen seperti ini merupakan suatu retret. Menarik diri dari kehidupan sejenak, menyepi untuk kemudian berkontemplasi merefleksikan hari-hari yang sudah dilalui, dan kemudian akan bermuara pada membangun niat dalam menghadapi masa yang akan datang.

Dan salah satu hasil refleksi saya adalah, berbagai kesenangan dalam kehidupan, termasuk kepemilikan, bersifat sementara. Tiada yang abadi. Suatu waktu kita bisa menggenggam semuanya, namun di kemudian hari, bisa lenyap tak berbekas.

Tinggal bagaimana sikap kita ketika sedang berpunya. Apakah menikmati sedemikian rupa sehingga lupa akan hal-hal lain yang lebih esensial? Itulah refleksi saya. Bagaimana dengan refleksimu?

Comments

Popular posts from this blog

Pemimpin Revolusioner

Jangan Salah Menilai

Mete