Nasi Kuning Mama


Hari ini, 3 Oktober, semestinya beliau berusia 70 tahun. Tapi, angka kepala tujuh tidak pernah ia raih. Usianya terhenti di 53 tahun 3 bulan. Hari ini, saya mengenang Mama.

Dulu sewaktu masih tinggal di kampung halaman, setiap 3 Oktober, pagi-pagi benar kami semua sudah bangun, segera mandi dan pergi ke gereja untuk mengikuti Misa harian. Tujuannya bukan hanya mengucap syukur atas hari ulang tahun Mama, tapi juga atas hari ulang tahun pernikahan Mama dan Bapa.

Ya, mereka mengikat janji suci tepat pada ulang tahun Mama yang ke-25, 3 Oktober 1980. Karena itulah, tanggal dan bulan ini, bagi anak-anak, merupakan tanggal keramat, dan wajib diselebrasikan, meskipun itu dalam hati saja.

Biasanya pada tanggal itu, sepulang sekolah, sudah terhidang hidangan yang spesial di meja makan. Nasi kuning itu wajib, beserta lauk pauk seperti ayam goreng. Kala itu lauk ayam adalah spesial, karena sehari-hari kami lebih sering mengonsumsi ikan laut.

Menu-menu yang sama spesialnya juga jaid jamuan ketika ada salah satu anggota keluarga yang berulang tahun di April, September, serta November. Semua itu diolah oleh tangan Mama sendiri.

Saat ini, di sekitar tempat tinggal saya, sangat mudah mendapatkan seporsi nasi kuning. Saya kerap memesan seporsi nasi kuning di seputaran Terminal Pinang Ranti, sepulang kerja. Lauknya beragam. Rupa nasi kuning boleh sama, tapi rasa yang menyentuh kalbu, belum pernah mendekati nasi kuning buatan Mama.

Kenanganlah yang menjadi bumbu spesial dan menghadirkan rasa yang berbeda, meski substansinya sama. Memori akan Mama, baik ketika sedang tertawa yang lepas landaas tanpa beban, atau saat sedang marah lengkap dengan mimik wajah serta diksi yang menghujam hati, atau juga akan kasih sayangnya yang tiada tara, semuanya mengkristal dan termanifestasikan dalam nasi kuning racikannya.

Dari bayang-bayang nasi kuning, tiba-tiba kenangan  30-an tahun yang lalu berpendar, ketika saya berusia sektiar 3 tahun, yang pada suatu petang, secara  tidak sengaja tanpa alas kaki, menginjak bara api panas membara, bekas bakaran sampah  Bapa di halaman belakang.

Keesokan harinya, telapak kaki pun melepuh dan memuai seperti balon. Perihnya bukan kepalang. Saya lupa dibawa ke dokter atau puskemas saat itu. Tapi pada siang hari, sembari menggendong dengan kain jarik, Mama mencoba menyanyi meninabobokan anaknya, sambil peluh membasahi tubuh Mama.

Saya selalu sentimentil kalau membahas Mama. Sosok yang sama, yang belum sempat melihat cucu-cucunya, mulai dari yang sedang sudah remaja, yang tengah menuju remaja, sampai yang masih bocah, dengan segala keaktifan dan kecerdasan khas mereka masing-masing. Sudah 17 tahun beliau berpulang.

Ah sudahlah..sudah larut rupanya. Sebelum ketinggalan transportasi umum dari kantor ke rumah, saya cuma mau bilang satu hal. Barangsiapa yang kiranya masih memiliki sosok ibu di dunia ini, baiklah untuk memeluknya, dan mengucapkan: “I love you Mama”.

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Pemimpin Revolusioner

Jangan Salah Menilai

Mete